Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, November 5, 2012

Cerpen Kesembilan

LINTAH PEMILU


ki sentanu
foto: half-life.wikia.com

Tiba-tiba kepala Karmin merasakan nyeri luar biasa. Ada puluhan lintah numpang minum darah di atas ubun-ubun kepalanya. Segera jemari tangannya mengibas, menyingkirkan lintah-lintah. Mencabuti satu-persatu beban sakit yang membuatnya menjerit. Bahkan saking banyaknya, sebagian tubuh mereka bergelantungan di keningnya.
“Arrghh!”
Karmin meronta merana.
Mulutnya menganga. Menahan geli sekaligus lara. Ludah getir perlahan menggelinding ke tenggorokan. Setengah tak sadar tubuhnya limbung ke lantai. Ternyata hisapan lintah tersebut semakin menghujam, mengikis habis persediaan darah. Hingga melumpuhkan tulang persendian.
“Pak, ada apa? Bapak kenapa?” teriak Tumirah -istri Karmin- sambil lari tergopoh-gopoh mendekati suaminya. Setelah secara spontan melempar kayu bakar hasil buruannya sore ini di teras depan rumah. Kemudian ia mengguncang-guncang tubuh suaminya yang bersender di balai bambu ruang tamu, “Nyebut, Pak… nyebut! Eling kali gusti Allah” ujarnya terus-menerus.
“Arrrghhh!”
Karmin lagi-lagi meronta.
Kedua tangannya masih setia mencabuti lintah di kepala. Tapi semakin ia cabut, rasanya semakin bertambah lintah-lintah menusuk kerangka kepala. “Lintah, Bu! Banyak lintah di kepalaku. Tolong… tolooong!” jerit Karmin ke segala penjuru.
Oalah… ndak ada lintah, Pak. Koyo wong gemblung ae. Eling tho, Pak!” seru Tumirah, gundah.
Entah berapa kali Karmin menjerit, menahan rasa sakit yang tak mau berkelit. Dalam samar-samar ia melihat Tumirah berlari keluar. Tak berapa lama, ia datang lagi sambil membawa Mbah Rusdi, orang pintar di desa mereka dan beberapa warga juga turut serta.
“Mbah, tolongin Kang Karmin. Dia berteriak-teriak seperti orang gila” pinta Tumirah pada Mbah Rusdi.
“Iya, Bu! Akan saya usahakan. Ibu tenang saja” balas orang pintar itu.
Dalam jejal kerumunan para warga, Karmin seperti sebuah mainan penghibur mereka saja. Sebab dalam pesakitan, mulutnya acapkali mengeluarkan kata-kata vulgar, “Lintah keparat! Gigitanmu luar biasa dahsyat! Seperti kemaluan laki-laki menusuk lubang farji! Tapi terasa nikmat! Hahaha…”
Gelak tawa para warga memenuhi balai tamu rumah mungilnya. Rumah sangat sederhana sekali, namun antusias keingintahuan warga mengenai ketidakpercayaan akan ‘ketidakwarasan’ Karmin besar sekali.
“Min, min… kasihan sekali dirimu. Hutang telah menjerat kewarasanmu” iba salah seorang warga.
“Mungkin gemblung gara-gara harga sembako melambung!” timpal yang lain.
“Ya, mungkin juga karena isu kenaikan harga BBM yang jelas dampak susahnya bermuara pada rakyat-rakyat kecil seperti kita”  ujar yang lain ikut menambahkan.
“Mungkin juga karena terlalu memikirkan hutang-hutangnya yang ratusan juta itu belum juga terbayar” ledek Paijo. Matanya melirik ke Tumirah.
Memang akhir-akhir ini tersiar kabar bahwa Karmin begitu depresi. Ini bermula sehabis ia mencalonkan diri sebagai kepala desa di Karangsengon, tempat tinggalnya. Tetapi nasib berkata lain, ia gagal menjadi kepala desa. Bermodal pas-pasan itupun hasil dari meminjam kas sebuah Pondok pesantren, ludes buat dana kampanye. Sebuah tindakan yang terbilang berani mengambil konsekuensi. Demi sebuah jabatan gengsi.
“Sudah, sudah… kalian jangan menuduh seperti itu. Mungkin dia hanya kesurupan. Kita lihat saja, mudah-mudahan Mbah Rusdi bisa mengobatinya” sergah Haji Slamet, menyudahi keributan.
Mbah Rusdi duduk bersila menghadap Karmin. Matanya terpejam. Tangan kanannya memegang sebuah gelas yang berisi air putih. Lalu di dekatkannya gelas tersebut pada mulutnya yang tampak komat-kamit baca jampi-jampi.
“Prooot..!”
Air dalam gelas di semburkan ke wajah Karmin setelah terlebih dahulu dikumur-kumur oleh Mbah Rusdi. Tiba-tiba tubuh Karmin menggelinjang. Matanya melotot, napasnya naik turun dan mulutnya meraung. Persis orang kesurupan. Haji Slamet dan beberapa warga memeganginya agar tak berontak. Sementara itu Mbah Rusdi masih sibuk dengan puja-puji. Agaknya benar kalau Karmin kesurupan.
“Huaaa, panas… panas!” Karmin berteriak kepanasan.
“Cepat, keluar! Ayo!” bentak mbah Rusdi, mulutnya tak henti-henti merapal jampi sedang tangannya mencengkeram tangan Karmin untuk menghantarkan energi positif.
“Huaaa, panas… ya, saya akan keluar. Saya akan keluar. Tapi nanti, hahaha..!”
“Kurang ajar!”
“Hahaha… dasar kalian, manusia bodoh! Mau-maunya hidup susah. Jadilah kalian seperti lintah, lihai mencari mangsa yang segar berdarah. Hahaha…”
Begitu merasa dikerjai, Mbah Rusdi semakin kuat mencengkeram dan semakin keras merapal mantra. Karmin semakin kelojotan. Mendesis manis dan berceracau memukau. Sebagian orang-orang yang menyaksikan dibuat penasaran.
“Maksudnya apa, segar berdarah?” timpal Paijo, heran.
“Hahaha… kalian memang goblok! Ya, kalian rampok saja para orang-orang kaya di desa ini. Kalian curi dan hasilnya kalian nikmati sendiri. Kalau mereka melawan, bunuh saja! Kikikik…”
Paijo mengangguk pelan. Sepertinya ia termakan omongan ngelantur Karmin.
 “Hei, Jo. Jangan percaya ocehan sesat Karmin. Dia lagi kesurupan” ujar Haji Slamet. Dia wanti-wanti kalau Paijo benar-benar akan menuruti ajakan Karmin. Maklum, Paijo pemuda pengangguran yang sangat mudah tergoda punya banyak uang secara instan.
“Nggak, Kang! Saya juga tahu mencuri itu dosa” balas Paijo. Matanya mengarah ke Haji Slamet.
Setan apa yang merasuki tubuh Karmin, pikir mereka, hingga susah sekali mengeluarkannya.
Memang baru kali ini Mbah Rusdi merasa agak kesulitan. Biasanya dengan hanya tiga kali baca mantra dan satu semburan saja, setan langsung pergi. Keampuhan mantra yang dimilikinya luar biasa. Karena dulu ada juga orang yang menantang kesaktiannya. Namun  na’as, si penantang tak kuat menahan kekuatannya hingga ia sendiri yang jatuh terkapar. Sekarang, entah setan apa yang  menghalangi kekuatannya. Bersikukuh tak mau keluar dari tubuh Karmin. Di lihat dari igauannya yang sering menyebut seekor lintah kemungkinan besar setan yang merasuki Karmin adalah setan lintah.
“Hai, setan lintah! Cepat keluar! Atau kau mau aku bacakan mantraku yang baru dan dijamin kau bakal sujud minta ampun!” bentak Mbah Rusdi sekali lagi.
“Hahaha… aku tidak takut! Silahkan saja!”
Dengan cukup lama mengingat-ingat kembali memori hapalannya, Mbah Rusdi menunduk tenang. Terpejam. Dua bulan yang lalu ia bermimpi didatangi gurunya dan diajarkan doa Rumeksa ing Wengi. Setelah sebelumnya didahului puasa mutih selama empat puluh hari sebagai syarat mutlak untuk bisa mengamalkannya.
Ana kidung rumeksa ing wengi
teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
…..
“Ada kidung rumeksa ing wengi. Menyebabkan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setan pun tidak mau…”
Mbah Rusdi merapal kidung sambil berdiri memegangi kepala Karmin. Mentransfer energi positif.
“Arrrggghhh! Panas… PANAS!!”
Mbah Rusdi tak bergeming ketika menyaksikan Karmin menjerit kepanasan. Ia terus-menerus membaca doa ampuhnya. Perlahan otot tegang Karmin mulai mengendur. Pundaknya turun dan napasnya lepas. Raungan terhenti. Lalu diam tak sadarkan diri.
Orang-orang yang mengelilingi tampak takjub dengan mantra baru Mbah Rusdi yang terbukti cespleng dan senang melihat Karmin pingsan, sebab setan yang merasuki tubuhnya kini sudah pergi. “Syukurlah Karmin sudah tenang. Biarkan dia istirahat” ucap Mbah Rusdi.
Tumirah yang sedari tadi menangis sesenggukan sekarang mulai berhenti. Para warga pun mulai beranjak pergi. Kini tinggal Tumirah saja yang masih menunggui suaminya siuman.
                                                         ***
Lima tahun kemudian.
Aroma pemilihan kepala desa kembali tercium sengaknya. Tetapi ada yang berbeda dengan pilkades kali ini. Para peserta bakal calon kepala desa tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Dulu, hampir dipastikan ada lima sampai tujuh orang yang maju sebagai calon. Sekarang hanya dua orang saja. Itupun yang satu memang sudah jadi kepala desa yang mencoba mencalonkan diri kembali.
“Kok tumben pilkades di sini minim calon yang mengajukan diri, Pak?” tanya Agus, mahasiswa tingkat akhir jurusan Fisipol yang sedang melakukan penelitian, pada Haji Slamet.
“Ya, gara-gara dulu banyak para calon lurah yang gagal yang kemudian kesurupan. Bahkan ada yang sampai sekarang pun masih belum waras” jelas Haji Slamet.
Lha kok iso, piye tho iki?”
“Begini ceritanya, semenjak ada kejadian Karmin -calon lurah- kesurupan, ternyata perkara kesurupan juga melanda kepada para bekas calon pemilukada yang lainnya. Ada Pak Sodik yang hampir menceburkan diri ke sumur gara-gara kesurupan. Pak Waluyo yang berlari mengitari rumahnya sendiri berkali-kali juga gara-gara kesurupan. Pak Rohim yang ketika kesurupan, hendak membunuh istrinya dengan parang. Dan terakhir Bu Laskmi -satu-satunya calon perempuan- yang kesurupan dan menelanjangi dirinya sendiri di depan para warga. Semuanya berteriak-teriak lintah. Sungguh menggemparkan dan miris melihatnya.
Tetapi yang paling menyedihkan, ya itu tadi si Karmin. Guru ngaji yang miskin dengan dorongan dan hasutan orang-orang, akhirnya mau juga. Ia  masih belum sadar juga sampai sekarang. Sudah modal habis, hutang segepok lalu diusir pula oleh istrinya. Gara-gara gila. Dan anehnya, untuk orang yang menang dalam pemilu, ia biasa saja. Heran. Ini yang menyebabkan warga desa Karangsengon pikir-pikir lagi untuk maju mencalonkan diri. Mereka takut kalah dalam pemilu nanti. Takut kesurupan. Takut gila beneran” terang Haji Slamet panjang lebar.
Agus manggut-manggut mendengarkan.
“Lalu apakah bapak tahu penyebab dari kesurupan bergilir seperti itu?”
“Banyak orang bilang, mereka yang ingin maju mencalonkan diri sebagai kepala desa tidak meminta restu ataupun mendatangi terlebih dahulu makam Eyang Sungkowo, sesepuh desa ini. Akibatnya Eyang Sungkowo marah karena merasa tidak dihormati. Lalu ia kirim suruhannya, setan lintah untuk memberi pelajaran kepada mereka. Sulit dimengerti memang. Bapak juga tidak percaya. Nah, sekarang tugasmu menyelidiki penyebab itu semua dengan ilmu pengetahuan yang kau dapat di perguruan. Piye, Nak?”
Dia berpikir sejenak.
“Wah, kalau urusannya mistis begitu, susah dihubungkan…”
Lha terus opo menurut sampeyan?”
“Apa jangan-jangan begini, Pak. Uang atau harta benda yang mereka gunakan untuk membiayai kampanye dan segala macam sebagian didapat dari pinjaman. Untuk para calon yang bermodal pas-pasan sudah pasti. Bahkan yang calon yang tajir sekalipun ada juga modal pinjaman. Karena pemilu memang menghabiskan dana yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, dana pinjaman itu menjadi beban buat si calon. Mau tidak mau mereka harus mengembalikan. Mereka over optimistis untuk menang dan dengan mudah mengembalikan modal. Tapi kenyataan di lapangan, mereka kalah. Beban hutang, pikiran dan rasa malu yang begitu besar berkecamuk hingga akhirnya depresi. Seringkali.”
Haji Slamet tersenyum. Sepertinya ia pun mengamini apa yang barusan dijelaskan oleh Agus. Perkara kesurupan itu hanya modus si setan lintah ataupun Eyang Sungkowo-nya warga masyarakat agar mereka ingat orang-orang yang sudah meninggal. Ingat perkara akhirat. Orang selamanya tak akan cukup bila ia belum merasakan cungkup. Rumah gubuk sebagai pelindung peristirahatan. Kematian.
_selesai_

Bumiayu, Agustus 2012

Wednesday, April 11, 2012

Cerpen Kedelapan


GENDERUWO BEGO

Seketika aku berlari menyusuri jalan desa beraspal walau sudah lubang-lubang. Aku terus saja berlari tanpa memandang ke belakang. Tanpa mengingat lagi muka serem Genderuwo yang ketika menyeringai biji-biji giginya gingsul, mukanya tertutup lebat rambut dan badannya tinggi besar bak atletik . Sebelumnya gundukan hitam berwadah kain kumal yang aku kira karung goni (bekas tepung terigu) berisi pasir. Setelah aku tendang dengan gaya akrobatik, tak tahunya malah Genderuwo yang sedang senderan tertidur. Aku takut. Gemetar jantung pasang surut. Refleks kakiku mengajak berlari sesaat dia menatapku dan berniat mengejarku.
Sementara kaki menghitung batu-batu jalan mencoba menghindar kejaran si Genderuwo. Di tengah jalan aku ketemu dengan seorang Ibu Penjual Jamu Gendong. Ibu itu pun sedang berlari, sama. Bedanya mungkin ia berlari untuk cepat sampai ke desa sebelah biar gak kesiangan. Bayangkan jam tiga dini hari seorang ibu mencari rizki tak kenal waktu, pikirku dalam hati. Sambil terus berlari aku perhatikan kecepatan larinya sungguh melebihiku. Ini karena badanku memang belum jadi benar (baru latihan jadi atlet lari karena sekarang tubuhku masih lebar, besar dan menyebar) atau karena Ibu itu memang badannya kurus. Tapi masa iya, dia kan sambil mengendong keranjang jamu-nya juga? Ah tak masuk akal, pikirku lagi-lagi tak percaya.
Sampai di pertigaan, ada lampu jalan yang kebetulan nyala karena sebelumnya banyak yang mati di rusak warga gara-gara jalan mereka rusak dan tidak segera diperbaiki. Demo ke Kelurahan juga tak di gubris akhirnya lampu-lampu jalan jadi sasaran amukan. Kembali ke pertigaan, kali ini aku bisa berlari sejajar dengan Ibu Penjual Jamu. Rasa penasaran yang menari-nari di kepala ingin segera ku sudahi. Aku ingin tahu wajahnya karena terlihat amat gelap. Persis di bawah sinar lampu, aku melihat dengan jarak sangat dekat. Bola matanya keluar, di keningnya terdapat sayatan-sayatan hingga membekas hitam dan pipi sebelah kirinya bolong, berdarah pula. Hingga tampak biji-biji giginya putih kemerahan. Alamaak! Hiii.. Bergidik bulu kuduk dan menegang bulu dada. Terkejut campur takut.
Aku berhenti. Ibu Penjual Jamu itu masih melanjutkan lari sambil terkikik-kikik. Asem, kenapa baru tertawa ria setelah aku tak bersamanya. Mungkin saja ia merasa terhibur ditemani olehku. Hiii… nggak lagi deh, ikutan lomba lari maraton.
Setelah mengatur napas, dibelakang bunyi, “Wes… wess!” sayup-sayup mengisi telinga. Ah, ternyata Genderuwo juga masih saja mengejarku. Walau dia  memakai sepeda mini, lama-lama sampai juga nanti di sini. Aku harus pergi dan lari lagi.
“Dasar Genderuwo gak punya otak! Ngapain coba lari pakai sepeda mini. Mungkin dilihatnya mubadzir daripada nganggur dijalan, jadi dipakai saja seenaknya. Bukankah ia bisa terbang? Bisa menghilang? Lalu dengan tiba-tiba berada si depanku? Seperti di film-film horor kebanyakan!” umpatku heran sedikit mengejek.
“Gak kreatif bener tuh Genderuwo. Dasar katro!” imbuhku sambil melirik ke belakang.
Di atas, sisa rembulan kayaknya tertawa sinis melihatku dikejar Genderuwo. Tuh kan bener, senyumnya terasa gak tulus. Pokoknya aku harus terus berlari dan cepat-cepat sampai ke rumah. Jarak antara lokasi tempat aku menendang si Genderuwo dengan rumahku kira-kira dua kilometer.
“Sial! Kenapa tadi aku tertidur ya pas nonton layar tancep. Jadinya aku ditinggalin sendirian sama temen-temen. Oalah dasar nasib emang kudu ketemu Genderuwo!” aku bergumam
Mendekati jembatan terakhir menuju desaku lagi-lagi aku dikejutkan dengan sesosok bayangan. Putih. Dilihat dari aksesoris dan dandanannya, aku tebak dia pasti Pocong. Ya, bener banget. Anehnya dia menari-nari diatas tugu jembatan bak biduan. Biduaria tepatnya. Soalnya Pocong kan cowo jadi ya biduaria alias biduan waria. Sepertinya tariannya aku paham betul. Tari poco-poco. Bukan gara-gara yang nari Pocong tapi emang bener itu tari poco-poco. Sumpah. Gini-gini pernah jadi pelatih penari juga.
Bermodal nekad aku terus berlari soalnya kalau tidak Genderuwo tetap mengejar di belakang. Begitu mendekati Pocong, hampir sejajar, ia tersenyum genit kepadaku. Ih, amit-amit! Ogah dah nari-nari bareng dia apalagi sampai pacaran.
Setelah selamat melewati, aku menoleh ke belakang, ia melambaikan tangan. “See you.  Good bye, honey. Hihi.. hihi..!” terdengar cempreng suaranya. “Ih, sorry ya bo!” balasku. Lha kok ngikut-ngikut menyamping? Ih, bener-bener ngefek aura tariannya sampai-sampai aku ikut larut dalam buai kefeminimannya.
“Mana tuh si Genderuwo? Kok gak keliatan. Jangan-jangan dia ketemu pocong terus diajak nari bareng lagi. Ah, biar saja malah seneng dia udah nggak ngejar-ngejar lagi” Aku bertanya-tanya seraya memperlambat kecepatan lariku dan merasakan sedikit lega. Kemudian Aku memutuskan berhenti. Secara Genderuwo bego itu juga gak keliatan lagi.
Ternyata dugaanku salah. Ketika sampai di mulut desa, pohon nangka besar tua samping jalan yang terkenal angker itu, dari atas dedaunnya muncul sinar putih keperak-perakan. Pikirku itu pantulan sinar rembulan yang mengenai dedaunan. Bukan. Itu adalah efek sinar yang timbulkan dari deretan biji-biji gigi. Karena sinar itu juga yang menggambarkan sosok wajah timbul. Berambut. Ada sedikit sapuan bedak di kening dan hidung digantungin cincin segala. Gaul tapi kok liat ketika tersenyum giginya gingsul. Ah, pasti itu si Genderuwo. “Hebat kali tahu-tahu sudah nangkring diatas pohon nangka. Mana sepeda mini yang tadi dipakainya? Tapi kok beda, mungkin ini kembarannya tapi kelihatannya ia Genderuwo yang pintar dan nggak bego kayak tadi.”
“Hahaha… hai anak muda! Kenapa kau menatapku curiga seperti itu? Ada yang salah dengan mukaku? Atau iri sama penampilanku yang modis abis?”
Aku ingin menumpahkan tawa sekenceng-kencengnya. Biar semua orang tahu bahwa aku bertemu dengan para hantu yang fashionable. Ngetrend. Mengikuti perkembangan zaman. Dari mulai Genderuwo bego yang menaiki sepeda mini, hantu Ibu-ibu Penjual Jamu Gendong yang pipinya bolong, Pocong menari tarian poco-poco dan kali ini giliran Genderuwo yang menindik hidung dan bermake up. “Kayak anak-anak boyband saja, suka dandan” aku berasumsi seraya diiringi tawa dalam hati.
Zaman sekarang memang sudah edan, begitu firman Eyang Ronggowarsito. Duh, bener-bener terbukti sekarang efek firmannya. Bahkan lebih gila lagi karena mereka (para Genderuwo, Pocong, dan sejenisnya) itu kan alamnya beda, bukan dunia nyata tapi gaib. Bisa ditarik kesimpulan kalau misal ada anak boyband ditanya. “Cowo kok make up-an, ih!” Dengan lembut ia pun menjawab. “Tenang, kita orang-orang ‘gila’ di dunia nyata tapi ada yang lebih ‘gila’ lagi, yakni Genderuwo, Sundel Bolong, Pocong dan Buto Ijo di alam gaib.”
Buru-buru aku tersadar. Barusan si Genderuwo bertanya padaku dan aku belum menjawabnya. Dengan maksud mencari aman menghindar dari sesuatu yang nggak diinginkan, aku berlagak memujinya. “Nggak, Om! Aku gak bermaksud curiga apalagi iri sama om Genderuwo. Aku Cuma takjub aja sama penampilan Om yang luar biasa modisnya. Keren, euy…”
“Hahaha.. hahaha… jadi om sudah keren ya? Gaul gitu? Hahaha...”
“Ho’oh. Keren abiiiss..!”
Ih, najis orang muka super jelek begitu ngakunya keren. Biar dipoles bagaimanapun kalo muka jelek ya tetep jelek, GEN-DE-RU-WO.  Nggak banget, cuih!
“Hahaha… terimakasih, terimakasih.”
“Hm, kalo gitu aku boleh melanjutkan perjalananku, Om?” pintaku sedikit sopan.
“Hahaha… enak saja! Nggak boleh, kecuali kalo kamu mau memijitku baru diizinkan pulang. Om habis jalan-jalan ke mall nih. Naik turun tangga, capek tau!”
Sebelumnya aku takut tapi begitu mendengar alasannya, lagi-lagi aku kepingin muntah (memuntahkan tawa, maksudnya)
“Oke! Tapi tiga kali pijitan aja ya? Soalnya aku capek plus masih ngantuk”
“Iyaaa…”
Tiba-tiba, braaak! Bunyi benda keras jatuh tersungkur dari atas pepohonan. Meringis kesakitan. Tak kusangka ketika Om Genderuwo mau turun dari pohon, tiba-tiba kakinya tergelincir karena menginjak ranting pohon yang sudah rapuh. Akhirnya, jatuh.
“Aduuuh.. aduuuh.. apes! Nasib-nasib.”
“Hahaha… hahaha…” akhirnya tawaku tumpah juga. Tanpa rasa takut akan kesereman Om Genderuwo.
“Juki! Banguuun.. pagi-pagi bukannya siap-siap berangkat sekolah malah asyik ngelindur sambil ketawa-ketiwi lagi. Bangun!” omel Emaknya.
“Iya ya… bawel! Orang lagi asyik ngetawain Genderuwo malah dibangunin. Ah, Emak!”
-selesai-
                                                        Bumiayu, 02 Februari 2012     

Cerpen Ketujuh


CINTA TAK SEMPURNA 
lomba cendol perempuan fiksi

Awal kisah perjalanan hidupku adalah ketika aku dilahirkan dari keluarga yang cukup dari segi materi. Wajahku pun terbilang cantik menurut versi keluargaku. Boleh dikatakan gadis tercantik dalam keluarga besarku adalah aku. Sebab satu-satunya cucu yang memiliki paras Libanon dari pihak nenek pun cuma aku. Hingga aku selalu menjadi idola bagi keluargaku, simbol kehormatan keluarga turunan Timur Tengah yang terkenal cantik dan megah.
Menginjak SD, menjuarai lomba menari tak pernah berhenti. Waktu SMP juara bernyanyi selalu menghampiri. Hingga SMA tiba, aku mewakili kotaku menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi. Setelah masuk kuliah baru prestasi-prestasi akademisi giliran yang ku jajaki. Predikat cumlaud dengan perjuangan gigih akhirnya dapat ku raih. Alhamdulillah, ucap syukur tak henti-henti meluncur dari mulut ku.
Sementara sehabis lulus kuliah bermodal ketrampilan manajemen akuntansi, aku melamar pekerjaan pada perusahaan-perusahaan besar. Papa memang terkenal sukses bergelut di bidang perdagangan aksesoris Timur Tengah. Tapi masalah koneksi ke mitra-mitra pengusaha kantoran, ia menyuruhku mencari sendiri. Walaupun tak sedikit kenalannya yang menduduki jabatan direktur, supervisor bahkan CEO di sebuah perusahaan terkemuka. “Itu untuk melatih kemandirianmu, Nael!” ujarnya menasehatiku di ruang tamu.
Aku mengangguk.
Barangkali dari sekian banyak perjuanganku dalam memperoleh suatu hal, baru kali ini aku merasakan sulitnya mencari sebuah pekerjaan yang diinginkan. Sebab dari kecil aku selalu dimanjakan dengan media-media penunjang. Dari mulai les menari, menyanyi sampai mahir berpuisi pun semua di lakukan dengan mendatangkan para guru yang berkompetensi.
“Iya, Pa! Doain Naela ya biar cepat dapat kerja?” kataku seraya menggelayut lengannya yang terasa masih ‘berisi’ walaupun kerut di wajahnya menyebar ke mana-mana.
“Tentu. Papa selalu mendoakan yang terbaik untukmu”
“Makasih ya, Pa?”
Papa tersenyum.
Papa benar-benar sosok kepribadian dan kebapakkan yang sangat matang dan tanpa cela, menurutku. Mama, lebih sibuk dengan mainan perhiasan-perhiasan jualannya. Seharusnya kan mama yang lebih perhatian pada anaknya ketimbang Papa, pikirku. Ya Allah.. biarpun perhatiannya padaku tak sepenuhnya tapi aku tetap menyayanginya. “Ma, maafkan Naela? Naela sayang Mama” aku membatin.
Tanpa terasa kabut menuruni kelopak mata. Mengendap kemudian menguap setelah berjatuhan di atas sofa. Hingga Papa yang sedang asyik baca koran tiba-tiba kaget mendengar sesenggukan dan bertanya. “Lho kok nangis, kenapa?” Dengan sigap langsung ku usap kedua pipiku dan mencoba tersenyum seakan tak terjadi apa-apa. “Nggak kok, Pa!” balasku sambil terus menunggingkan bibir.
“Nggak gimana, tuh matamu merah?” ujarnya memperhatikan.
“Oh, ini iritasi kena debu kemarin pas jalan-jalan nyodorin lamaran”
“Ya sudah. Di kasih obat iritasi terus dibawa tidur”
“Iya, Pa!”
***
Beberapa minggu kemudian, setelah perjuanganku berjibaku dengan interview dan pintaku padaNya di setiap waktu juga keikhlasan doa orang tuaku, akhirnya aku diterima kerja di sebuah perusahaan besar swasta. Lambat laun aku mulai sibuk dengan duniaku sendiri. Hingga tak ada pikiran untuk cepat-cepat menikah. Aku ingin menjadi wanita karier yang sukses. Biarlah pangeran yang beruntung yang nanti akan menjemputku dan mengajakku ke pelaminan.
Namun tiba-tiba virus merah jambu itu benar-benar mendatangiku. Ceritanya begini, pada waktu itu perusahaan tempatku bekerja mengadakan acara pengajian dalam memperingati hari besar Islam. Yang mengisi ceramah seorang dai muda lumayan kondang di kalangan masyarakat. Berawal dari minta foto bareng dia sama teman-teman pas acara selesai dan minta nomor handphone juga, aku mulai dekat dengannya.
Sampai akhirnya takdirlah yang berbicara. Dia mengajakku menikah. Tanpa ragu aku mengiyakannya. Sudah dari dulu aku menginginkan calon suami orang yang paham agama. Karena aku sendiri menyadari betapa minimnya pengetahuanku tentang agama. Aku beruntung sekali mendapatkannya.
Qobiltu nikahaha wa tazwijaha…”
“Sah..?”
“Sah! Amien..”
Begitu mendengar suara itu aku langsung menangis bahagia. Aku melihat Papa dan Mama tersenyum simpul kepadaku. Melihat lelaki yang berada disampingku terpancar sinar kasih sayang dan kelembutan. Paripurna suka cita membahana langit-langit jiwaku.
Setelahnya aku tinggal bersama suami di sebuah rumah baru. Meninggalkan kenangan bersama orang tua. Tapi dengan sangat terpaksa aku keluar dari pekerjaan. Suamiku meminta agar aku di rumah saja, tak usah bekerja. Biar nanti dia yang bekerja. Jiwa kebebasanku berontak tapi tidak teriak. Aku sadar betul siapa suamiku. Kenapa ia melarang dan menghalangi cita-citaku yang sedari kecil, menjadi wanita karier. Karena yang berbicara adalah dia yang menjadi panutanku dalam mengarungi hidup. Maka mau tak mau aku harus taat padanya.
Sebagai gantinya ia menyuruhku mengajar di salah satu TK dekat rumah. Kebetulan yang punya sudah kenal baik dengan suamiku. Akhirnya aku pun mengajar di tempat tersebut. Bergelut dengan dunia anak-anak. Dunia yang mempersiapkan aku menjadi seorang ibu. “Itu untuk melatih kematanganmu menjadi calon seorang ibu” begitu katanya padaku. Persis seperti nasihat Papa waktu itu.
Setahun setelah pernikahan, hingga hari ini, aku merasa momen dimana aku dipertemukan dengan lelaki yang sekarang menjadi suami, adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku. Kehidupan pernikahan bisa dibilang berjalan baik. Satu dua pertengkaran atau ketidakcocokan rasanya biasa dalam membina bahtera rumah tangga. Sampai aku melahirkan anak pertama, kehidupan kami tetap bahagia.
Hingga tanpa ada permasalahan yang jelas, suamiku menjatuhkan talak. Cerai. Begitu saja. Tak ada pertengkaran hebat, tak ada perempuan lain setidaknya dalam sepengetahuanku.
“Lalu salahnya apa?” tanya Rani, temanku.
“Saya tidak tahu” bisikku lirih, “Sebagai istri rasanya aku tidak banyak menuntut, tidak minta dibelikan ini dan itu.”
Rani pun heran, ketika aku menjelaskan bahwa suamiku menceraikanku begitu saja gara-gara ia sudah tidak cinta. Ya, hanya itu alasannya. Setelah memberikanku seorang anak, kini dengan sangat mudahnya meninggalkanku. Tanpa rasa bersalah.
“Nggak. Ini nggak adil buatmu, Nael?” Rani menggeleng tak percaya.
“Percuma, Ran. Kalaupun aku protes terus aku menyalahkan dia, toh orang-orang nggak bakal percaya. Dia kan seorang dai, mana mungkin orang tidak percaya omongannya. Pasti mereka menyalahkanku” balasku pasrah.
“Tapi kan..”
“Sudahlah. Mungkin ini takdirku dan yang penting aku rela dan ridha.”
***
Aku  tidak tahu bagaimana  harus bersikap ketika beberapa lama kemudian terdengar kabar bahwa suamiku sudah menikah. Lelaki yang ku cintai selama ini ternyata sudah milik perempuan lain. Setelah pernikahan beberapa tahun dia dan istrinya belum memiliki seorang anak. Akhirnya dia menikahiku untuk mendapatkan seorang anak. Tapi apa? Aku malah ditinggalkan begitu saja.
“Aku tidak tahu dia sudah menikah. Dia tidak pernah memberitahuku” jawabku ketika Rani menanyakan pernikahanku dulu.
“Nael, kenapa sih orang sebaik kamu harus tersangkut menjadi istri kedua? Sekarang, diceraikan pula. Di mana nurani? Di mana ketulusan? Dan di manakah moralitas bekas suamimu yang ngakunya dai itu?” tanyanya berentetan.
Aku hanya diam.
Yang aku ingat hanya kenangan-kenangan indah masa lalu bersama suamiku. Senyum bahagia di wajahnya ketika mendengar berita aku hamil. Namun sejak anakku berumur dua tahun, tanda-tanda tidak suka justru yang mengemuka. Dia jarang pulang. mungkin istri pertamanya cemburu gara-gara madunya hamil. Lah, aku tak tahu mau dia apa, Menikahiku sekedar memuaskan atau memang betul-betul ingin mempunyai keturunan.
“Biarlah, Rani. Selama Allah ridha kepadaku…”
-selesai-

Bumiayu, 24 Januari 2012




Tuesday, April 10, 2012

Cerpen Keenam


SYAIR CINTA TERBELAH DUA
lomba unyu cokelat kopi


Pukul 22.03 WIB
“O, ya Kak…,” Fanny membuka percakapan di ujung telepon. “Besok kita jadi ikutan acara ngebedah novel ADSC-nya mbak Erin, kan?”
“Jadi, insya Allah” jawab Willy mantap.
Willy, kakak kelas Fanny yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Begitu lulus, ia lebih memilih mengambil kursus komputer daripada ngelanjutin kuliah.
“Kakak nggak sibuk kan?”
“Nggak, mudah-mudahan kakak bisa ontime.”                          
“Ya udah adek tunggu, ya?”
“Iya…!”
Tuts!
Telepon terputus.
Pukul 09.00 WIB
Liukan angin menghempas jendela ruang kelas II B jurusan IPA yang terbuka. Meninggalkan serpihan daun-daun kering, berceceran di dalam kelas. Angin kemarau berceracau. Sementara di dalamnya anak-anak tampak serius mendengarkan penjelasan Bu Marisa, guru Matematika mereka.
Pukul 13.15 WIB
 “Mah, jam dua siang nanti Fanny mau ngikut acara ngebedah novel penulis terkenal mbak Reni Erina di aula Kadipaten, boleh ya? Soalnya aku udah janji sama temen mau datang.”
“Boleh. Asal jaga diri, ya sayang, ya?”
“Asyik… beres, Mah!”
Pukul 13.40 WIB
Hujan gerimis mengguyur pusat kota. Tapi itu tidak mengusik lalu lalang manusia dalam menjalankan aktifitasnya. Acara bedah novel sebentar lagi dimulai.  Belum ada tanda-tanda Willy datang. Fanny yang sedari tadi duduk di emperan, memandang gelisah ke pelataran jalan raya sekitar Kadipaten Cilacap. Ia masih menunggu ‘kakak’nya melambaikan tangan kepadanya. Sebuah kebiasaan memang bilamana keduanya bertemu. Hm, norak sih tapi enjoy aja lah.
Gerimis perlahan menghilang.
Angin masih berhembus kencang.
Tak berapa lama kemudian,
“Adek…!” suara mengejutkan mampir di telinga sebelah kiri Fanny.
“Kakak!” Fanny terkejut. “Beneran? Tumben nggak melambaikan tangan” tambahnya, meledek.
“Hm, beneran lah… tadi tuh kakak langsung ke belakang, abis udah nggak tahan.”
“Oh, hehe…”
“Udah ah, tuh moderatornya udah teriak-teriak. Ayo, masuk?”
“Oke boss!”
Pukul 16.25 WIB
Willy mengambil motornya di tempat parkiran. Fanny lebih memilih  menunggu di emperan. Menanti kakaknya datang menghampiri.
“Ayo naik, Dek…,” ajak Willy. “Mumpung belum terlalu sore, kakak antar pulang?”
Deg! Seperti ada yang mengalir deras pada arteri Fanny. Kini ia terjerat memori tempo dulu. Ketika ia bersama Ugi, teman sekelas sekaligus pacar pertama yang selalu mengantarnya ketika masih kelas satu. Namun semenjak kepindahan Ugi dan keluarganya ke Jakarta, ia jadi sendiri lagi. Ajakan-ajakan barusan yang keluar dari mulut Willy sangat menyentuhnya. Terlebih bayangan wajah cinta pertamanya yang seolah disuguhkan di depannya. Ah, gimana kabarmu sekarang?
“Hey, bengong lagi. Ayo!”
“Iya, Kak. Bentar…”
“Ngelamun kenapa sih? Masih kepikiran gara-gara tadi nggak dapat doorprize?”
“Enak aja, nggak lah. Mungkin belum rezeki.”
“Ya, ya sip! Haha… “
Jalanan lengang. Tak seperti biasanya. Dan sepasang manusia yang melaju tak begitu kencang pun tampak diam. Sama-sama saling berpetualang pikirannya sendiri-sendiri.
Ah, Ugi. Aku membayangkan seandainya orang yang berada di depanku adalah dirimu. Akan kupeluk erat punggungmu. Biar kau tahu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang, malah kau yang pergi meninggalkanku.
Sementara itu,
Ah, Fanny. Perempuan yang akhir-akhir ini selalu menemaniku dalam berkarya, berburu dan mecoba menduduki sastra. Kini duduk memeluk renggang punggungku. Kesamaan visi ternyata membuat kita lebih dalam menjalin silaturahmi (persahabatan). Sebelumnya, saat aku masih sekolah dulu, malah aku tak begitu mengenalnya.  Ada rasa hangat mengalir di rongga dada. Mungkinkah ini cinta yang memelukku. Ah, lagian dia sudah terlalu nyaman memanggilku ‘kakak’.
“Kak…,” Fanny mengawali pembicaraan. “Kesetiaan seorang cowok jika dihitung dalam persentase, kira-kira berapa persen sih?”
“Jieee, lagi nunggu siapa, hayo?” ledek Willy.
“Ih, apaan sih! Orang nanya doang. Bisa jawab nggak?”
“Hm, lima puluh persen. Tergantung keyakinan masing-masing juga. Kalo mantap dan berkomitmen tinggi, bisa nyampe tujuh puluh bahkan sembilan puluh sembilan persen.”
“Kok gitu?”
“Iya lah. Emang siapa sih cowok yang lagi disenengi adek? Jujur lah sama kakak.”
“Ugi, Kak!”
“Oh, temen sekelasmu  itu, ya? Yang dulu kecil, kurus tapi putih kayak orang cina.”
“Hehe… iya, Kak. Tapi dia sudah pindah ke Jakarta bareng keluarganya. Janjinya, setelah lulus nanti dia akan datang menemuiku lagi.”
“Kasiaaan. Sabar, ya? Kakak yakin suatu saat ia pasti akan datang menjemputmu.”
“Amien… makasih, Kak?”
Pikiran Fanny melayang membumbung tinggi. Ada rona kecewa turut mengekor. Kemudian tanpa disadari lagu Disaat Aku Mencintaimu-nya Dadali, terdengar sangat pilu di hati.
Mengapa kau pergi, mengapa kau pergi
Di saat aku mulai mencintaimu
Berharap engkau jadi kekasih hatiku
Malah kau pergi jauh dari hidupku
………………
Pukul 16.50
Di ruang tamu, empat orang dewasa dan satu anak muda, terdengar berbincang-bincang. Mereka adalah papah mamah-nya Fanny dan  juga Ari beserta ayah dan ibunya. Ari, teman kecil Fanny waktu dulu kini bertandang ke rumahnya. Kabarnya Ari akan melanjutkan sekolah menengah atasnya di sini. Setelah kepindahannya sembilan tahun yang lalu, kini ia akan bermain-main lagi dengan sahabat yang dulu sangat dekat.
“Bener, kamu mau ngelanjutin sekolah di sini?” tanya Pak Agus-papah Fanny, pada Ari.
“Iya, Om.  Sekalian kepengin kangen-kangenan sama Fanny” balasnya sudah nggak tahan melihat Fanny.
“Oh ya, kok nyampai sore gini Fanny belum juga pulang?” potong Bu Dina-ibunya Ari.
“Barusan dia sms udah di ujung gang depan” timpal Bu Lastri-mamah Fanny.
Tak berapa lama kemudian,
“Assalamu’alaikum…” Fanny masuk sembari mengucap salam. “Tumben ramai banget, ada tamu ternyata.”
“Wa’alaikumsalam… Fan, kamu pulang sendirian atau diantar sama temenmu itu?”
“Di antar nyampe depan, Mah. Dia ada keperluan lagi makanya nggak ikut masuk. Cuma nitip salam aja buat mamah sama papah.”
“Oh. Eh ya. kamu masih inget sama dia?” tukas Mamah sambil menunjuk ke arah Ari.
“Hm, ARI?” tebaknya.
“Iya, Fan. Aku Ari Budhiarto” aku si pemuda, polos. Matanya mengitari wajah Fanny.
***
Malam itu, Willy asyik melamun memikirkan Fanny. Sudah satu minggu lebih mereka tidak berjumpa semenjak acara di Kadipaten. Sekarang Fanny sedang menikmati liburan sekolah dengan mengunjungi rumah Eyangnya di Kebumen.
“Aku rasa sudah saatnya aku beritahu Fanny tentang sebenarnya perasaanku padanya” Willy membatin. “Tapi bagaimana caranya? SMS? Telepon?” Dia menopang dagu. “Aha! Ajak ketemuan aja. Lagian aku sudah lama tak bertemu dengannya” Willy tersenyum puas.
Dua minggu kemudian,
Di sebuah teras, sepasang anak muda asyik bercengkerama. Mesra. Sebentar terlihat tangan si cowok mendarat di pipi si cewek, mencubit pelan.
“Fan, kamu ingat nggak dulu, saat kita main sepedaan, kita jatuh ke empang?”
“Ingatlah… kamu emang sengaja kan ngejatuhinnya?”
“Haha… nggak, pas itu aku kan baru belajaran.”
Tanpa di sadari, Willy menyaksikan mereka dari balik pagar. Sebelumnya ia hendak memberi surprise dengan berkunjung ke rumah Fanny secara diam-diam dan ingin mengajaknya ke sebuah tempat. Menanyakan perihal rasa cintanya yang terpendam itu.
Begitu melihat Willy tiba-tiba muncul, Fanny kaget lalu menghambur mendatanginya. “Kakak?” desis Fanny.
Willy mengiyakan.
“Maaf, kakak nggak kasih tahu dulu kalau mau datang. Siapa dia, dek?” Willy membuka helm sambil memandang si cowok di teras sana.
“Temen waktu kecil, baru pindahan dari luar kota dan sekarang ngelanjutin sekolah lagi di sini, bareng adek.”
Willy mengangguk.
“Dek, keluar sebentar, yuk?”
“Kemana, Kak?”
“Kita makan Mie Ayam di tempat biasa.”
“Waduh, adek lagi ngerjain PR sama Ari. Gimana?”
“Sebentar. Kakak juga ada sesuatu yang ingin disampaikan.”
Sayup-sayup pembicaraan mereka pun terdengar oleh Ari. Lalu ia bangkit menghampiri mereka. Ada sepercik api di rongga dadanya. Sebab merasa keasyikannya terusik. “Mau pergi kemana, Fan? Bukannya kita lagi ngerjain PR? Selesaikan dulu lah” tanya Ari memohon.
“Eh, kamu juga, ngapain ngajak-ngajak Fanny? Ganggu aja!” tambahnya menyolot.
“Ari! Ngomong apa sih kamu?” sergah Fanny.
“Mas, aku cuma mau ngajak dia keluar sebentar. That’s wrong, heh?” Willy mulai terpancing emosi.
“Iya lah… orang dia pacarku. Main bawa-bawa aja!”
“Apaaa, kamu pacarnya?!”
“IYA!” Ari still yakin.
“Apa benar itu, Dek…,” Willy meminta kepastian. “jadi selama ini kau sudah menjalin hubungan dengan dia? Shit!”
Fanny tertunduk. Diam. Dalam hati kecilnya ada bongkahan penyesalan atas ketaksetiaannya pada Ugi dan janjinya untuk membuka hati pada Willy. Ya, dia pernah berjanji kalau rasa cintanya perlahan hilang pada Ugi, orang pertama yang di izinkan mengetuk hatinya adalah Willy. Tapi kini… semuanya berubah.
Buru-buru Willy meninggalkan mereka berdua. Ia melaju motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sambil hatinya bersenandung syair lagu patah hati yang dulu juga sempat dinyanyikan Fanny.
Mengapa kau pergi, mengapa kau pergi
Di saat aku mulai mencintaimu
Berharap engkau jadi kekasih hatiku
Malah kau pergi jauh dari hidupku
……………
Namun itu hanyalah secuil sketsa-sketsa yang terlintas dalam pikiran Willy. Saat itu ia melintasi senja dengan perasaan yang berkecamuk. Dia baru saja menerima kenyataan bahwa seorang yang dicintainya telah memiliki hati lain. Kini, dia harus terbaring lemah di Rumah Sakit karena kecelakaan pada senja kelabu itu.
-selesai-
Bumiayu, 29 Februari 2012