Showing posts with label Cermin. Show all posts
Showing posts with label Cermin. Show all posts

Wednesday, February 19, 2014

Tikung

by. Rossi Elbana - Nurlaila Yusuf

Dinginnya AC sering membuat Rio flu. Belum lagi layar monitor LCD yang membuat minus matanya bertambah parah karena terus menerus ia pelototi. Tumpukan blocknote rekapitulasi pelan tapi pasti, menyebabkan kerutan-kerutan di dahi. Aku suka laki-laki, ulangnya dalam hati. Rio masih tak percaya. Ah, masa iya… tanyanya pada diri sendiri. Di ingatnya lagi obrolan dengan seorang teman.
“Kamu kepikiran muka dia seharian, kamu terus-terusan ingin ketemuan. Trus apa lagi? Itu namanya cinta yo!” Ditariknya nafas perlahan lalu dibuangnya nafas itu pelan-pelan. Sesosok wajah kembali terbayang, sekilas tapi membekas. Senyum lembut, rambut hitam, bulu mata panjang. Sejak kapan lelaki bisa terlihat secantik itu?
“Ini musti omong kosong…” desahnya putus asa pada layar komputer.
“Kenapa, Yo? Parah ya materinya?” tanya seseorang dari belakang. Kevin!
"E-eh? euh… iya. Kamu belum pulang?" jawab Rio panik.
“Ohhh, enggak saya ada kerjaan yang kelupaan, yakin gapapa?” Kevin tersenyum khawatir. Ini…  raut inilah yang membuat aku gila. “Yakin!” dengan kesal Rio membalik badan dan berusaha terlihat sibuk dengan pekerjaan.
***
Bekerja untuk media massa memang dibilang merupakan pekerjaan berat. Deadline, tuntutan publik, ancaman politik berita-berita negative membuat mental siapa pun mudah sakit. Dan itulah yang terjadi pada Rio. Kini mental dan jiwanya sakit. Di satu tahun terakhir, pelan tapi pasti orientasi seksualnya mulai berganti. Di tengah himpitan pekerjaan dan konflik batin akibat ketidaksetiaan pasangan, akhirnya Rio menyerah, ia menengadah pada nasib yang membawanya ke keadaan terendah lalu meminta Tuhan agar mengijabah doanya atas seseorang. Dan akhirnya seseorang itu datang, tepat tiga bulan yang lalu. Orang itu datang, tetapi sayang ia bukan perempuan.
Kevin. Anak baru di kantornya. Ialah lelaki yang berhasil membuat Rio berada di titik ternyaman dalam kehidupan. Meski baru kenal, Rio merasa bahwa Kevin adalah untuknya. Cara Kevin menyapa dan memperhatikannya. Empati kebaikan hati lelaki anggun berkulit putih pucat itu berhasil meluluhlantakkan pertahanan Rio. Terasa berat di awal ketika tahu bahwa dirinya tak lagi memiliki hasrat untuk kaum hawa dan malah jatuh cinta dengan salah seorang teman pria. Namun, entah bagaimana Rio kini berhasil menerimanya. Menerima kenyataan bahwa ia kini terpaut sepenuhnya pada Kevin.
Sebenarnya Rio dulu punya perempuan kecintaan. Gadis manis itu bernama Mela. Ia menjalin hubungan dengan Mela sejak SMA. Semua baik-baik saja hingga pada akhirnya Mela mengkhianatinya. Mela yang Rio cintai setengah mati berhasil menjadi pemicu dari bom waktu yang digenggam Rio sejak dulu. Mela berhasil meledakkan amarah dan memunculkan lubang besar di hatinya akibat pengkhianatan. Setelah ibunya, kini Mela. Rio tak pernah menemui wanita setia dalam hidupnya.
Betapa sakit hati Rio. Ia mencintai Mela melebihi rasa cintanya pada eskrim vanilla. Ia selalu meletakkan posisi Mela di atas kepala. Nyaris selama dua tahun penuh Rio membiarkan hatinya berlubang, ia kesakitan tapi semua berhasil ditahan dengan menyibukkan diri di pekerjaan.
Di awal, setelah ia bertransmigran dan mulai bekerja di perusahaan, rasa rindunya sering membentur kepulauan dan mimpi hidup bersama pujaannya payah di tengah jalan. Ia tak lagi ingin memiliki pasangan. Rio sering menelan puisi dan membuat coretan-coretan cinta yang kini terasa konyol untuknya.
Karena cinta, keypad kalkulator
serasa buah kurma manis menor
Karena cinta, tumpukan blocknote tagihan
serasa surat cinta sang pujaan
Karena cinta, angka rumus matematika
serasa lekuk tubuh sang idola
Kemudian kekuatan mantra coretan-coretan itu lagi-lagi lemah dan akhirnya masuk tong sampah. Seperti memang sudah ditakdirkan, cinta putihnya, memerah. Mengamarah. Walau tidak sepenuhnya cinta itu muntah. Ia terlanjur putus asa. Dan rindu di awal titik itu berakhir benci setelah koma. Hingga akhirnya Kevin datang. Orang yang dinantinya. Lelaki berparas cantik. Si penyelaras bahasa di divisi yang sama.
Esok adalah hari Valentine, dengan segala keberanian yang berhasil ia kumpulkan, esok Rio akan menyatakan perasaannya pada Kevin. Ya, Rio sadar bahwa menyatakan cinta pada seorang pria adalah gila, tapi ia sudah tak peduli lagi. Bukankah cinta mengalahkan segalanya? Bukankah itu juga berarti cinta tanpa logika?
Ia ingin memiliki Kevin. Ia ingin menggenggam tangan lentik yang menghiburnya dengan segelas kopi, ia ingin mengecup mata indah yang menatapnya dengan watir akibat deadline yang getir. Setelah bermalam-malam mendamba, besoklah saatnya.
“Kebetulan saya juga memang mau ngobrol sama kamu, Yo” jawab Kevin ketika Rio mengajaknya untuk pergi minum sepulang kantor. Rio tersenyum simpul melihat ekspresi bahagia Kevin yang dirasakannya dari pagi. Sejak berhasil menerima kenyataan sebulan lalu, hubungan Rio dan Kevin kian membaik. Rio tak lagi menghindari lelaki itu, justru sebaliknya, kini ia sepenuhnya membuka diri pada Kevin.
***
“Kamu mau saya jadi saksi nikah?” tanya Rio, mulutnya kering. Kevin mengangguk lalu tersenyum geli, “Gak usah sekaget itulah! Kamu gak percaya saya sudah punya calon?” Rio menelan ludah dan bongkahan sakit yang tiba-tiba meledak di kerongkongan. Dadanya mencelos. Ditatapnya Kevin lekat-lekat, “Pasanganmu perempuan?” tanya Rio, suaranya serak. “Aahahaha, pertanyaan macam apa itu? Ya perempuanlah! Malah malam ini saya mau kenalin orangnya ke kamu…”
“Kenalin ke saya?” ulang Rio getir.
“Ya, dia mau kenal sama kamu. Saya sering cerita soal kamu ke calon istri, bukannya cemburu dia malah ngebet mau ketemu. Agak watir juga sih ngenalin kalian… kamu kan tipe yang ditaksir banyak perempuan, hahaha” Mendengar ini, jantung Rio terasa dipalu bertubi-tubi. Namun dipaksakannya untuk tetap tersenyum.
“Ah! Itu orangnya,” tiba-tiba telunjuk Kevin mengarah ke belakang punggungnya, Rio menoleh. Pemandangan selanjutnya membuat Rio kaget bukan kepalang. Di sana, di tengah keramaian kedai minum, berjalan perempuan mungil yang ia kenal. Mela?
***
“Gak nyangka ya, Ar? Rasanya baru kemarin anak ini kasih undangan pernikahannya ke saya…” bisik seseorang di belakang Rio.
“Hm, saya gak kira kalau nasib dia bakal begini,”
“Semoga mereka berdua berjodoh di alam sana ya…”
Mendengar ini, mata Rio meruncing sebal. Ditengoknya orang yang baru saja berbicara, itu Seto kawan kantornya dari bagian penyelaras bahasa. Kalau begitu, besok kau akan jadi saksi nikah mereka, sahut Rio tanpa suara.
Pastor mulai mengucapkan kata-kata terakhir di depan dua makam segar yang baru selesai ditimbun. Rio menangis, diambilnya saputangan berbercak merah, di genggamnya saputangan itu erat-erat.
-o0o-
source: kompasiana.com

Wednesday, January 30, 2013

Bayi Mati di Kolam Bundaran HI

bayi
pict: google.com

Tugu Selamat Datang yang menjulang tinggi di pusat ibu kota menjadi latar indah, membatasi hamparan jalan aspal dengan sodetan-sodetan kecil. Sebab kemarin-kemarin dicumbui banjir yang memaksanya menikmatinya. Hembusan angin menjadikan air mancur seketika bergoyang gaya ngebor Inul Daratista. Membuatnya tidak tepat jatuh di atas kolam. Melainkan terbang, beralih menindih jalan.

Di pinggiran kolam, di bawah kucur air mancur, sebuah bungkusan plastik hitam teronggok tak bertuan. Membuat Karmin -seorang petugas kebersihan- penasaran. Dengan cekatan, bungkusan itu ia raih. Kena. Diletakannya di jalan. Ada bebauan tak sedap menyergap. Semakin penasaran. Ia membukanya. “Astagaaa!”

Saryo yang sedari tadi sibuk menyapu jalan, terkejut mendengar teriakan Karmin.
“Ada apa, Min?” teriaknya.
“Ini, Yo… ada orok dibungkus plastik, mati mengenaskan” jawab Karmin nyinyir.
“Yang benar?”
“Lah, ini lihat!”
“Iya, Min... terus gimana?”
“Kita serahkan saja pada polisi.”

Dugaan sementara para warga adalah bayi itu dibuang orang tuanya ke sungai. Lalu terbawa arus banjir besar kemarin yang juga menggenangi sekitaran bundaran. Kemudian masuk ke kolam.
***

Entah kenapa, semenjak Karmin menemukan mayat bayi yang di buang orang tuanya, memorinya tertarik ke belakang. Ia teringat masa lalunya yang sering gonta-ganti pacar. Yang gilanya, wanita yang dia pacari musti ia gagahi. Hukumnya wajib. Tak peduli ia melakukannya ‘tanpa pengaman’. Apakah mereka yang dulu kutitipi air mani, yang dengan pengecut kutinggalkan begitu saja, mereka hamil? Mungkin karena malu tidak ada bapaknya, anak-anak itu mereka buang seenaknya? Ah, sungguh bejat diriku!  Karmin merutuki dirinya sendiri.
***

Tugu Selamat Datang masih menjulang. Hotel Indonesia pun masih ada dan tidak hilang. Gerobak sampah terparkir di sekitar bundaran. Karmin dan Saryo masih setia membersihkan jalan. Beberapa moda transportasi darat selain kereta api, masih sering merayap dan mengendap-endap di tengah jalan. Bahkan ada yang berdiam diri. Rela mengantri berjam-jam demi mendapat ‘tiket jalan’. Di trotoar anak-anak jalanan berseliweran meminta hak saweran.

_
bumiayu, 250113

Wednesday, March 21, 2012

Flash Fiction Pertama


BUNGA VALENTINE
antologi es campur

April datang tiba-tiba. Berbisik ia pada sobatnya Fanny, lantas duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian ia berdiri, memetik mawar di vas bunga depannya. Tampak ia memain-mainkan bunga itu ditangan.
“Eh, kasih ucapan Valentine’s day buat Rossi, pakai bunga ini” saran Fanny.
“Hmm, pengen sih. Tapi bukannya cowok yang biasanya ngucapin duluan?” sergah April.
“Iya, masalahnya kamu kan belum jadian sama dia. Makanya ini kesempatan buat ngungkapin perasaan loe, gimana? Sekarang udah zamannya cewek yang nembak duluan, ayo!” bujuk Fanny semakin keras.
“Tapi.. aku malu Fan!”
“April! Kamu cinta kan sama Rossi?”
“Iya, Fan. Aku sayang banget tapi..”
”Udaaah, samperin sono!”
***
“Rossi, boleh aku bicara sebentar?” pinta April malu-malu.
“Boleh ngomong aja!” jawabnya datar.
April terlihat gugup. Tersekat mulutnya seakan menelan daging marmut yang tak dikunyah.
“Ayo katanya mo ngomong. Ngomong apa?”
“E.. anu, aku mo ngasih bunga mawar ini untukmu” ucap April tergagap seraya menyodorkan bunga.
“Oo.. bunga, makasih ya?” balas Rossi sambil meraih bunga.
April mengangguk. Dia belum juga ngungkapin perasaannya pada Rossi. Beban malu masih menindihnya. Sesaat ia teringat kata-kata Fanny “Gak usah malu, ungkapin aja perasaan loe!”.
“Ada satu lagi yang ingin ku katakan padamu”
“Apa lagi?”
Gubraaak! April buru-buru pingsan. Ia belum sempat mengungkapkan perasaan.
***

Bumiayu, 18 November 2011